Jalan Setapak Mahasiswa
sumber gambar: pojokpitu.com
Menjadi
seorang mahasiswa bukanlah perkara mudah. Mahasiswa bukan sekedar jenjang
setelah lulus SMA sederajat, melainkan lebih dari itu. Sosok yang
diharapkan oleh bangsa akan kontribusi nyata di hari mendatang. Sebuah amanat
yang cukup berat dipikul oleh seorang yang mempunyai jenjang sekolah paling
tinggi.
Sejarah di Indonesia telah
mencatat bahwa peran mahasiswa sangat besar bagi kemerdekaan. Sebut saja
diantaranya adalah the founding fathers kita, Sukarno dan Hatta. Dua tokoh
intelektual pejuang kemerdekaan tersebut adalah pejuang sejak masa masih di
bangku kuliah. Waktu itu Bung Karno masih kuliah di Technische Hoge School atau
sekarang ITB, sedangakan Bung Hatta belajar di Handels Hoge School di Rotterdam.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa aktivis yang matang adalah ia yang hidup
terdidik, tidak harus kuliah.
Dari sejarah kita belajar,
dari sejarah pula kita mebaca hari lalu, kini, dan esok. Bahwa pergeseran nilai
dan norma seorang mahasiswa sudah begitu jauh. Perbedaan zaman adalah faktor
penentu dinamisnya kondisi kaum mahasiswa saat ini dan dulu. Namun, perlu
adanya koreksi untuk mengetahui kemerosotan ini, apakah benar nilai kejuangan
mahasiswa sudah mengalami degradasi ataukah hanya zaman yang berbeda.
Baiklah sambil nyruput
kopi di suasana mendung ini saya akan bahas. Pertama, kondisi psikis mahasiswa
saat ini tentu sudah jauh berbeda dengan mahasiswa zaman dahulu. Kondisi mapan
dan serba aman pasti jauh berbeda dengan kondisi perang dan penuh penindasan,
terkecuali bagi yang sadar penindasan zaman modern. Kedua, taraf hidup yang
semakin tinggi antara remaja saat ini dan pemuda semasa Bung Karno. Remaja saat
ini diakui atau tidak bahwa kebutuhan untuk pamer ria lebih penting
dibandingkan memenuhi hasrat intelektual dan pengetahuan. Pemuda zaman bapak
saya saja cita-citanya sangat mulia, yaitu membangun lahan yang subur, hidup
makmur beserta keluarga. Bandingkan dengan pemuda saat ini, dengan gengsi yang
tinggi memaksakan kondisi riil ekonomi dan sosial kelauraga sehingga kata
pepatah “besar pasak daripada tiang”. Ketiga, pengaruh globalisasi yang sulit
dibendung generasi muda Indonesia. Mualai dari buaian sudah dicekoki
iklan-iklan yang sungguh menggiurkan. Menuntut alam bawah seseorang untuk
membeli dan memenuhi hasrat nafsu duniawi yang berubah begitu cepat. Hal ini
membuat kaum muda terlena dan jarang yang memperhatikan kaum terpinggirkan dan
tertindas. Sudah luntur semangat juang untuk pemerataan ekonomi dan
memperjuangkan hak-hak sosial.
Begitulah tantangan didepan
kita. Mampukah mahasiswa menjawab dan mengatasi segala pembelokan. Ataukah
hanya bisa mengekor diseret derasnya arus zaman. Salam perjuaangan
sahabat-sahabatku!

Komentar
Posting Komentar