Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Aktivis

INILAH AKIBAT JOMBLO TERLALU LAMA DI KAMPUS

Gambar
Munculnya aksi-aksi mahasiswa angkatan tua terhadap mahasiswa baru yang kurang memperhatikan hak-hak kemanusiaan, perlu ditilik dari sudut pandang lain. Analisis dari segi sosiologi dan psikologi terhadap lingkungan subjek sudah biasa dilakukan para akademisi, tetapi analisis subjek dari sisi personal tak kalah pentingnya. Apalagi, akhir dekade ini tuntutan prestasi akademik terhadap mahasiswa, menurut Widayanto (2012) menjadi salah satu penyebab turunnya minat mahasiswa dalam berorganisasi di kampus. Tradisi kehidupan kaum intelektual yang dulunya suka bersosialisasi dan komunal, condong menjadi individual. Maka dalam situasi ini, kondisi pembelajar yang masih jomblo perlu mendapat perhatian serius, sama seriusnya seperti tulisan ini.  Secara bahasa, belum ada kesepakatan yang cocok untuk memaknai kata jomblo, mungkin diperlukan adanya sidang isbat. Kata “jomblo” ada yang menyamakan dengan “jomlo” di KBBI yang berarti gadis tua. Namun jomblo lebih akrab dipahami sebagai...

Lirik Lagu 17 April PMII

Gambar
Akulah embun tetesan tradisi Melawan matahari pecipta pelangi   Akulah puja tetesan sang wali Melumat kata menumbuk duri Engkau adalah mata air suci Bertahan iring arus globalisasi Engkau adalah bintang pemimpin negri Bekerja tabuh genderang demokrasi Wahai sejarah saksikan kami tegak berdiri Damaikan samudra Meluluhkan tirani Khidmadku untuk rakyat dan illahi Demi pertarungan yang kita perangi Dan pertempuran yang belum kita jalani 

Jalan Setapak Mahasiswa

Gambar
sumber gambar: pojokpitu.com Menjadi seorang mahasiswa bukanlah perkara mudah. Mahasiswa bukan sekedar jenjang setelah lulus SMA sederajat, melainkan lebih dari itu. Sosok yang diharapkan oleh bangsa akan kontribusi nyata di hari mendatang. Sebuah amanat yang cukup berat dipikul oleh seorang yang mempunyai jenjang sekolah paling tinggi. Sejarah di Indonesia telah mencatat bahwa peran mahasiswa sangat besar bagi kemerdekaan. Sebut saja diantaranya adalah the founding fathers kita, Sukarno dan Hatta. Dua tokoh intelektual pejuang kemerdekaan tersebut adalah pejuang sejak masa masih di bangku kuliah. Waktu itu Bung Karno masih kuliah di Technische Hoge School atau sekarang ITB, sedangakan Bung Hatta belajar di Handels Hoge School di Rotterdam. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa aktivis yang matang adalah ia yang hidup terdidik, tidak harus kuliah. Dari sejarah kita belajar, dari sejarah pula kita mebaca hari lalu, kini, dan esok. Bahwa pergeseran nilai dan norma seorang m...