Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

Gus Jakfar

Cerita Pendek Oleh A. Mustofa Bisri  Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.  "Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya."  "Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja mereka me...

Hujan Bulan November

Tak ada yang lebih bijak Dari hujan bulan Juni – kata Sapardi Aku tersenyum Adakah yang lebih romantis dari hujan bulan November? Disaat risau memuncak Dirayu ku dengan suasana syahdu Tak ada yang lebih tabah Dari hujan bulan Juni – kata Sapardi Mulutku menyeringai Ketabahan dan ketenangan Aku dapatkan di bulan November Ketika kalbu mendengar rintik  Bertegur-sapa dengan air dan genteng  Tak ada yang lebih arif Dari hujan bulan Juni – sabda Sapardi, lagi Aku terharu Ketika hati dirundung rindu Hujan di bulan November Orkestra pengiring keabadian Menuju ridha-Mu Malang, 9 November 2016

Seandainya Kau Disini, Kasih

Adakah yang lebih romantis Dibanding hujan di sore hari Saat dedaunan meliuk Dan suara bising petir menambah merdu Adakah yang lebih romantis, Kasih Bandingkan dengan menghirup aroma tanah surga Dan lenyapnya desing perkotaan Ku tahu kau paham akan basa-basiku Buatlah hidupku lebih bergairah sore ini Terserah kau apakan aku Rayu Buat janji palsu Atau sumpah sehidup semati Bautlah hidupku lebih berapi, kekasihku Disaat yang lain layu dan gugur satu demi satu

Deru Memecah Kesunyian

Keramaian semakin datang dekat Lekat ku mamandang Apalah arti semua ini Hidup dalam lecutan cemeti manusia-manusia munafik Beradu tajam lidah penuh lendir yang bau Semakin ku berjalan Semakin jauh pula ku tersesat Lalu dimana Dimana itu, sesuatu yang kurang di benak ini Kukira disini                        Pemuas dahaga semua amarah Adu kerut kening serta urat leher jadi tren anyar Masa kini Kau ini ketinggalan jaman, nak Tuntutan sebuah masa paling depan dan paling membuat pesimis Kau salah mengartikan makna sebuah tetesan air Yang suatu saat memercik membuat gaduh Kau anggap biasa saja mangga yang tiba-tiba berubah mencadi kemuning Nanar mataku mendengar suara tak berpenghuni Kau sudah berjalan sampai sini Tapakkanlah langkahmu Mantapkan kakimu Cahayakan sinar matamu Biar kau dapat merasakan Meskipun hanya bunyi...